Rabu, 12 Juni 2013
Orang-orang Romantis
Qais sebenarnya tidak harus bunuh diri. Hidup tetap bisa dilanjutkan tanpa Layla. Tapi itulah masalahnya. Ia tidak sanggup. Ia menyerah. Hidup tidak lagi berarti baginya tanpa layla. Ia memang tidak minum racun. Atau gantung diri. Atau memutus urat nadinya. Tapi ia
membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sampai napas berakhir. Tidak bunuh diri. Tapi
jalannya seperti itu.
Orang-orang romantis selalu begitu : rapuh. Bukan karena romantisme mengharuskan
mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus.
Tapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab
batasnya jadi kabur. Kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama. Qais lelaki yang halus.
Sekaligus lemah.
Kombinasi begini banyak membuat orang-orang romantis jadi sangat rapuh. Apalagi saatsaat menghadapi badai kehidupan. Misalnya ketika mereka harus berpisah untuk sebuah
pertempuran. Maka cinta dan perang selalu hadir sebagai momen paling melankolik bagi
orang-orang romantis. Mengerikan. Tapi tak terhindarkan. Berdarah-darah. Tapi tak
terelakkan. Itu dunia orang-orang jahat. Dan orang-orang romantis datang kesana sebagai
korban.
Begitu ruang kehidupan direduksi hanya ke dalam kehidupan mereka berdua dunia tampak
sangat buruk dengan perang. Tapi kehidupan punya jalannya sendiri. Ada kaidah yang
mengaturnya. Dan perang adalah niscaya dalam aturan itu. Maka terbentanglah medan
konflik yang rumit dalam batin mereka. Dan orang-orang romantis yang rapuh itu selalu
kalah. Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang beriman : kalau mereka mencintai istriistri mereka lebih dari cinta mereka pada jihad, maka Allah pasti punya urusan dengan
mereka.
Tapi itulah persoalan inti dalam ruang cinta jiwa. Jika cinta jiwa ini berdiri sendiri, dilepas
sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya memang biasanya kesana :
romantisme biasanya mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya ke dalam ruang
kehidupan mereka berdua saja. Karena di sana dunia seluruhnya hanya damai. Di sana
mereka bisa menyambunyikan kerapuhan atas nama kehalusan dan kelembitan jiwa. Itu
sebabnya cinta jiwa selalu membutuhkan pelurusan dan pemaknaan dengan
menyatukannya dengan cinta misi. Dari situ cinta jiwa menemukan keterahan dan juga
sumber energi. Dan hanya itu yang memungkinkan romantisme dikombinasi dengan
kekuatan jiwa. Maka orang-orang romantis itu tetap dalam kehalusan jiwanya sebagai
pecinta, tapi dengan kekuatan jiwa yang tidak memungkinkan mereka jadi korban karena
rapuh.
Ketika kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, janda itu
hanya menjawab enteng, Alhamdulillah, sekarang dia mungkin sudah bersenang-senang
dengan para bidadari…
Serial Cinta Tarbawi, Anis Matta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar