Kamis, 20 Juni 2013
Sang Maestro Dakwah : MUHAMMAD NATSIR
Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau.Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol.Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara.Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.
Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang.Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung.Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam
Tahun 1945, Muhammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia, setelah kemerdekaan, memintanya membantu melawan penjajah.Kemudian menjadi anggota MPRS.Tahun 1946, mendirikan partai MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).Ia juga menjabat sebagai Menteri Penerangan selama empat tahun.
Ketika Belanda hendak menjadikan Indonesia negara serikat.Mohammad Natsir menentangnya dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Usulan ini disetujui 90% anggota Masyumi.
Tahun 1950, diminta untuk membentuk kabinet sekaligus menjadi Perdana Menterinya.Tapi, belum genap setahun, ia dipecat karena berseberangan dengan Presiden Soekarno.Ia tetap memimpin Masyumi dan menjadi anggota parlemen hingga 1957.
Mohammad Natsir tokoh Islam kontemporer dunia Islam, mujahid yang menerjuni pertarungan sengit di setiap jenjang, dan politikus piawai.Memegang jabatan-jabatan penting di negaranya, mencurahkan segenap kemampuan untuk menjadikan Islam sebagai system pemerintahan Indonesia dan melawan orang-orang yang menghalangi tegaknya Islam dari kalangan penyeri sekulerisme, komunisme, atau para kaki tangan barat maupun timur.
Pidato berjudul “Pilihlah Satu dari Dua Jalan : Islam atau Atheis” yang ia sampaikan di parlemen Indonesia dan dipublikasikan majalah Al Muslimun mempunyai pengaruh besar pada anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
Saat menerjuni bidang politik, Mohammad Natsir politikus piawai. Saat menerjuni medan perang, ia panglima yang gagah berani.Saat berdebat dengan musuh, ia pakar ilmu dan dakwah.
Mohammad Natsir menentang serangan membabi buta yang dilancarkan misionaris Kristen, antek-antek penjajah, dan para kaki tangan barat maupun timur.Dengan menerbitkan majalah Pembela Islam.Ia juga menyerukan Islam sebagai titik tolak kemerdekaan dan kedaulatan, pada saat Soekarno dan antek-anteknya menyerukan nasionalisme Indonesia sebagai titik tolak kemerdekaan.Saat itu Soekarno bersekutu dengan komunis yang terhimpun dalam Partai Komunis Indonesia untuk melawan DR Mohammad Natsir dan Partai Masyumi.Pertarungan ini berlangsung hingga tahun 1961, Soekarno membubarkan Partai Masyumi dan menahan para pemimpinnya terutama Mohammad Natsir.Perlawanan kaum muslimin di Indonesia tidak padam, terus berlanjut hingga terjadi revolusi militer, yang berhasil menggulingkan Soekarno, tahun 1965.
Keluar dari penjara, Mohammad Natsir bersama rekan-rekannya mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia yang memusatkan aktivitasnya untuk membina masyarakat, mengerahkan para pemuda, dan menyiapkan dai.Kemudian cabang-cabang DDI terbentuk di seluruh Indonesia dan generasi muda dapat mengenyam kehidupan Islami, menikmati suasana ilmiah, mereguk fikrah Islam yang benar, member pengarahan kepada masyarakat, mendirikan pusat-pusat kegiatan Islam (Islamic Center) dan masjid, menyebarkan buku-buku Islam, membentuk ikatan-ikatan pelajar Islam, serta mendirikan beberapa asosiasi professional, para insinyur, para petani, pekerja, dan lain-lain. Ia juga menjalin hubungan dengan gerakan-gerakan Islam Internasional untuk saling tukar pengalaman dan saling mengokohkan persatuan.
Tahun 1967, Mohammad Natsir dipilih menjadi Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional di Pakistan.
Sikapnya yang sopan, santun, tawadhu, dan sederhana membuatnya dicintai oleh setiap orang yang mengenalnya dan akrab dengan orang-orang yang bekerja asama dengannya. Kepedulian kepada masalah-masalah yang dihadapi kaum muslimin menyita sebagian besar waktunya.Ia melakukan lawatan ke dunia Arab dan Islam guna memperjuangkan prinsip-prinsip Islam, menyelesaikan masalah-masalah kaum muslimin, mengikuti muktamar, menghadiri seminar, melakukan hal-hal yang bermanfaatn untuk Islam dan kaum muslimin. DR Mohammad Natsir sangat serius memperhatikan masalah Palestina.Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di Negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina, setelah kekahan di tahun 1967.
Siang dan malam Mohammad Natsir berkunjung ke wilayah di Indonesia untuk urusan dakwah, sesuai dengan program yang telah direncanakan, manhaj yang telah dikaji sebelumnya, dan disertai rekan-rekan yang memahami kewajibannya, menyadari tanggung jawabnya, dan mencurahkan segenap kemampuannya.
Setelah Soekarno tumbang pada Oktober 1965, Kristenisasi semakin meningkat. Para misionaris melipatgandakan upayanya, membangun gereja-gereja, menyebarkan Injil, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan membuka sekolah-sekolah misionaris.
Meskipun para misionaris mendapatkan banyak kemudahan dari antek-anteknya di dalam negeri, suntikan dana sangat besar, dan peralatan memadai, tapi upaya DR Mohammad Natsir dan rekan-rekan menjadi konspirasi busuk mereka.Sebab keikhlasan dalam beramal, ketuluisan dan berusaha sesuai syariat menjadi pembuka kebaikan yang terus meluas di penjuru Indonesia.
DR Mohammad Natsir punya peran besar dalam mengarahkan lembaga-lembaga pemuda adar bekerja berdasarkan hikmah, kejelasan pandangan, dan pemahaman memadai.Itu semua agar lembaga-lembaga pemuda dapat melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan Kitab Allah, Sunnah RasulNya dan konsesus para ulama salaf yang menjadikan Islam sebagai Undang-undang, syariat, akidah, ilmu, amal, jihad, pasukan, fikrah, dan ibadah yang tulus kepada Allah Ta’ala.Yang Maha Esa dan Penguasa langit dan bumi.
Mohammad Natsir meninggalkan karya tulis, baik yang terkait dengan dakwah atau pemikiran. Sebagiannya telah diterbitkan dalam bahasa Arab, misalnya: Fiqhud Da’wah dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih salah Satu dari Dua Jalan) Di samping itu masih banyak ceramah, riset, makalah Mohammad Natsir yang tersebar dan tidak dapat dihitung. Ia pemimpin sekaligus pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang berhasil menghimpun kaum muslimin di manhaj yang jelas dan murni, membuat strategi kerja dakwah yang dibangun di penelitian lapangan, mengkader dai penyebara Islam, membantah tuduhan-tuduhan lawan, dan menghilangkan syubhat yang disebarkan musuh-musuh Islam.Mohammad Natsir juga menjadi dewan anggota pendiri Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Majlis di Makkah Al-Mukarramah, dan Anggota Muktamar Islami di Pakistan. Mohammad Natsir pulang ke rahmatullah, 5 Pebruari 1993 di Jakarta, Indonesia. Semoga Allah Ta’ala merahmati DR Mohammad Natsir dan menggantinya dengan orang lain yang meneruskan dakwah yang dirintisnya bersama rekan-rekan Nusantara.
::pks-kotabogor.org
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar